suara2 penjual nasi pecel,telur asin, dan minuman membangunkan mereka. ian mengucek-ngucek matanya, mengambil botol air minumnya dan tidur lagi. arial terbangun sebentar dan bengong

“udah sampai mana, ta?” tanya riani lembut sambil membereskan rambutnya dan mengikatnya

“jogja” jawab genta yg lalu membereskan duduknya

“pegel juga ya duduk melulu” dinda berdiri sebentar, matanya memicing silaukena cahaya lampuneon kereta di atasnya

“ada toilet ngga di sini?” riani bertanya ke genta

“di stasiun aja deh. lu tau kan di kereta kaya gini paling buat laki2 doang”

“oh, lama ngga keretanya berhenti?kita turun aja , kebelet nih” riani meringis

“kayaknya sih lama, dari tadi belum ada kereta lain yg lewat, kereta ini kan nunggu yg lain lewat dulu”

“ya udah turun yuk” riani beranjak berdiri, melewati sela2 kaki temannya

“yuk…” genta dan dinda ikutan berdiri
zafran terbangu, matanya melihat sekilas bayangan teman2nya yg mau turun ke stasiun

“bang zafran mau ikut ke toilet?” dinda tersenyum manis sekali ke zafran
zafran langsung berdiri, semangat, ngantunya ilang

“rambo mau ikut?” tanya riani

“nanti yg jagain tas siapa? lagian gua udah kencing. beliin permen pedes dong kl ada” arial yg lg bengong berkata males

“oke bos”

genta, riani, zafran, dan dinda turun dari kereta, menginjakkan kaki di ubin putih yg mulai kekuningan di stasiun lempuyangan jogjakarta. mereka berjalan ke toilet stasiun yg ada di antara para pedagang yg msh mencari rezeki di malam yg terasa lain di hati mereka berempat. malam dingin di suatu tempat yg jauh sekali dari rumah. langkah2 pun bercerita tentang hati mereka yg sedang tersentuh kerinduan

selepas dari toilet, mereka berempat duduk di bangku stasiun hawa agak dingin menimpa wajah mereka. di kejauhan, lampu2 kota jogjakarta, jalan utama di depan stasiun yg lengang hny ditunggui oleh satu dua becak yg diam kosong berbaris di bawah pohon besar diterangi lampu jalan yg kuning temaram

“kayaknya gua dulu pernah ke jogj, tp ngga ky gini stasiunnya, lebih bagus, lebih gede” riani tiba-tiba ngomong

“emang bukan” jawab genta

“kereta yg kita naiki namanya matarmaja dan ia ngga lewat stasiun utama jogja,stasiun ini namanya lempuyangan stasiun kecilnya jogja. kl di jakarta kaya stasiun senen atau tanah abang” genta menjelaskan

“oh pantes…”

“hawanya lain ya kl jauh dr rumah” zafran berkata pelan sambil memandang jam tua di tembok stasiun yg mulai pudar termakan usia

“iya, kayanya jauh banget” dinda membenarkan zafran

“bang zafran mau permen pedes?”

zafran tersenyum dan mengambil permen dari tangan dinda, walau cuma dua detik, saat itulah pertama kalinya zafran menyentuh tangan dinda

“nak, nasi pecel, ayam telur, nak. ndok asin, ndok asin, hangat hangat” seorang ibu tua dgn pakaian khas jawa dan kain batik lusuh, mengusung gendongan makanannya, menawarkan dagangannya ke riani

“ada yg mau nasi?” tawar riani

“boleh, gua mau. laper jg nih perut” zafran mengiyakan

“semuanya mau?”

genta dan dinda mengangguk

“berapaan bu, kl pake ayam?” tanya dinda

“dua setengah” jawab ibu itu dgn logat jawa yg kental

“hangat?” tanya dinda lagi

“iya msh hangat”

“ya udah, dibuat enam ya bu’e” riani berkata lembut

“alhamdulillah, terima kasih gusti pangeran”

pendengaran mereka bergerak dalam diam.keempat anak manusia itu serasa ditusuk hatinya. rambut si ibu yg mulai memutih tampak berjatuhan di sela-sela keringatnya. usianya mungkin sudah enam puluhan, baju kebaya ungunya tampak lusuh sekali, kulitnya kering hitam legam khas pekerja. kain batiknya tampak kotor. di malam sedingin ini, si ibu hny bertelanjang kaki.

sambil melihat sang ibu yg sedang menyiapkan nasi, dinda bertanya tanya dgn hatinya, ya ampun… ibu setua ini, malam malam msh mencari rezeki, ke mana anaknya? dinda tambah tercekat melihat tangan hitam dan kurus itu menyiapkan nasi

riani berdiri terdiam, kakinya terasa kaku, hatinya yg lembut bergejolak, tangannya merinding. kalimat sang ibu tadi membuat hatinya menggigil

“bu’e… kok malam2 begini msh jualan?” riani bertanya sambil memegang bahu sang ibu

“cari makan, nak. kalau ndak jual nasi, mbok ndak pny uang”

“suaminya kemana mbok?”

“sudah meninggal”

riani merasa menyesal menanyakan suami si mbok. mendengar jawaban itu, hati genta terasa ada yg menusuk-nusuk. ia hny bisa tertunduk dan menyalakan rokoknya. di antara bayangan asap putih rokoknya dilihatnya air muka tua yg penuh guratan usia -dlm dan menghitam- sesekali rambut ibu yg putih jatuh di keningnya. hati genta terlempar ke sana kemari

dia udah terlalu tua untuk semua ini, batin genta berjalan pelan sekali, bingung dan ngga tega. matanya menatap lampu2 kota jogja di ujung rel

“anak mbok mana?”

“sudah sama istrinya… kl siang mbecak di situ” jawab si mbok jujur, menunjuk ke arah pintu keluar

sambil membungkus nasi, si mbok berkata lagi, “anak mbok jg susah. jd mbok hrs jual nasi, kl siang ke pasar nyari kardus bekas buat mbok jual lg” sesekali sikut keriputnya menyeka peluh di keningnya

“kl malam jualan nasi?” tanya zafran

si mbok menoleh ke zafran dgn wajah lelah dan mata sayu,zafran serasa di tampar hatinya

“mbok udah jualan dr sore, tp lg sepi, belum sampai lima lakunya” tutur si mbok dgn nada sedih

zafran memainkan ujung resleting jaketnya, berdiri menatap penjual nasi itu dgn pandangan beribu makna. ada yg mengganjal di benaknya sesaat setelah mendengar jawaban itu. matanya berpindah memandang ubin stasiun yg menguning dgn lampu stasiun yg memantul pendar tdk jelas di mata zafran. ia edarkan pandangannya. jam tua di stasiun menunjukkan hampir pukul 3 pagi. tembok tua di stasiun dgn cat yg mulai mengelupas, atap stasiun yg menghitam disudutnya, seorang tukang becak tua yg membawa kardus, ibu muda dgn wajah letih dan mengantuk menggendong anaknya yg terlelap. zafran mengusap mukanya dgn kedua telapak tangan, menghela nafas panjang sekali, dan melepaskannya sesak

“untung anak beli banyak. habis ini mbok mau pulang, badan sudah sakit semua, takut besok masuk angin”

keempat anak manusia itu terdiam mematung, hati mereka bergerak pelan sekali seperti detik jam tua di tembok stasiun

“ini nak, enam nasinya” mbok penjual itu menyerahkan enam bungkus nasi yg diwadahi kantong plastik merah bekas seadanya

dinda langsung jongkok di depan si mbok lalu mengulurkan selembar 50ribuan yg dilipat rapi. dinda menggenggam tangan si mbok

“mbok ini aku kasih lebih ya, buat mbok. tp besok pagi mbok janji ngga usah ke pasar minta kardus, mbok tidur aja di rumah. janji ya, mbok!” kata dinda pelan

si mbok melihat uang lima puluh ribu di tangannya, mata tuanya membesar dan mendekatkan genggaman tangannya ke hidungnya. “alhamdulillahgusti pangeran… alhamdulillah”

riani mencoba untuk tidak menangis. zafran dan genta terdiam mendengar rasa syukur si mbok. dindamasih berjongkok mematung memandang si mbok

terima kasih ya mbok…. terima kasih banyak”genta memegang bahu si mbok

mereka berempat segera berjalan masuk kereta. dinda dan riani menyeka mata dgn tisu. di antara malam yg jauh, dingin, dan asing, nereka msh bisa mendengar do’a lelah si mbok di telinga mereka

perlahan tp pasti, kereta mulai berjalan meninggalkan stasiun lempuyangan yg sangat berkesan bagi mereka berempat. suara peluit dari stasiun dan do’a si mbok masih mengisi telinga mereka. riani melihat keluar jendela kereta, matanya terkejut, dadanya sesak. di sepanjang stasiun lempuyangan dilihatnya banyak sekali sosok perempuan seperti si mbok penjual nasi tadi. di antara lambatnya kereta, mata riani memperhatikan wajah lelah mereka satu persatu, membayangkan nasib mereka yg mungkin tidak jauh berbeda dari si mbok. matanya terpejam, hatinya ngga kuat lg, pemandangan di luar seperti memasuki relung terdalam hatinya, tenggorokannya seperti menelan sesuatu yg tdk enak, yg disangkal hatinya

tHiS liTTle parT of my LiFe…is called..happineSS

betra

betra

Bluefame Roman